Allah swt menganugerahimu kenikmatan Islam di saat bermiliar-miliar manusia terjerembab dalam kekafiran. Allah menganugerahimu kenikmatan fasilitas pendengaran, penglihatan, dan kepekaan hati, di saat banyak orang selainmu tidak bisa merasakan kenikmatan itu.
Antum terus-terusan mendemonstrasikan berbagai macam kemaksiatan, namun Allah swt masih tetap menyayangimu. Antum melumuri tubuhmu dengan dosa, namun Dia selalu siap menerima tobatmu. Antum beberkan rahasia-rahasia, namun Allah selalu menutupinya demi kebaikanmu. Antum tak henti-hentinya berbuat nista kepada-Nya, namun Ia juga tak henti-hentinya berbuat baik kepadamu. Antum putuskan hubungan dengan-Nya, Dia selalu menyambungnya.
Perkataan kotor dan dustamu tidak menyebabkan-Nya menghalangimu untuk menikmati kenikmatan berbicara. Antum melihat hal-hal yang diharamkan oleh-Nya, namun hal itu tidak menyebabkan-Nya mencabut kenikmatan penglihatan yang dianugerahkan kepadamu. Antum mendengar hal-hal yang dilarang, namun Ia tidak mengganjarmu dengan ketulian.
Dia menganugerahimu kenikmatan, baik yang engkau sadari dan ketahui atau yang tidak engkau sadari dan tidak engkau ketahui. Engkau sering merasakan kenikmatan itu, namun engkau lupa mensyukurinya. Di saat engkau sadar betapa besar nilai kenikmatan itu.
Muhammad bin Shabiih yang terkenal dengan panggilan Ibnus Sammaak pergi ke istana Haru al-Rasyid. Ia membawa segelas air minum. Di hadapan khalifah ia berkata " Wahai Khalifah, berapa harta yang akan engkau keluarkan apabila aku melarang engkau minum air yang ada di tanganku ini? " Khalifah menjawab, "Separuh kekuasaanku."
Ibnus Sammaak kembali bertanya, "Wahai Khalifah, berapa harta yang akan engkau keluarkan apabila air yang telah engkau minum tidak bisa keluar dari tubuhmu?" Khalifah menjawab 'Aku akan jual seluruh kekuasaanku."
Ibnus Sammaak berkata, " Jadi, air minum dan air kencing lebih berharga dari kerajaanmu."
