Selasa, 17 Februari 2009
Itulah yang dialami oleh salah seorang kader PKS di Jakarta Selatan. Sebut saja namanya Ningrum. Mendapat tugas untuk mengunjungi sepuluh rumah warga, langsung disambutnya dengan semangat. Selain untuk bersilaturahim, kegiatan ini ia manfaatkan untuk mengetahui pendapat masyarakat tentang PKS, yang kemudian dimuat di sebuah buletin PKS yang ia garap.
Tibalah Ningrum di rumah salah satu warga RT 12 RW 01 Pesanggrahan. Sebut saja namanya Bu Nini, Wanita berumur lebih dari setengah abad ini menyambut Ningrum dengan ramah.
Mendapat sambutan yang hangat, Ningrum pun segera menyatakan maksud kedatangannya. Setelah sedikit basa-basi, Ningrum langsung melontarkan beberapa pertanyaan.
“Menurut Ibu, masalah apa di DKI Jakarta yang harus segera diselesaikan masalahnya?” ucap Ningrum memulai pertanyaan.
“Apa ya…,” Bu Nini tampak bingung, dan kebingungan itu segera ditangkap oleh Ningrum.
“Maksudnya begini. Kalau Ibu senengnya kehidupan di Jakarta itu kayak apa? Apakah lingkungan aman, sembako murah, sekolah dan berobat ke rumah sakit juga murah, cari kerja tidak susah, jangan sering macet dan tidak sering-sering banjir. Pokoknya Bu Nini pengennya Jakarta itu kayak apa…?” jelas Ningrum panjang lebar.
“Wah kalau saya sih pengen semua Neng,”
“Iya tapi yang mana dulu pengennya”
“Yah sembako dulu dah murah, sama rumah sakit, soalnya ibu udah tua nih, suka sakit-sakitan, Kalau sakit gini sedih banget Neng. Malah bapak sudah meninggal, anak jauh, semuanya ibu kerjaiin sendiri’ ucap Bu Nini dengan mata berkaca-kaca.
“Yang sabar ya Bu, Insya Allah nanti sakitnya sembuh,” tutur Ningrum menenangkan.
****
Singkat kata, pertanyaan demi pertanyaan telah Ningrum lontarkan. Tibalah pada pertanyaan tentang calon anggota legislatif
“Menurut ibu nih, apa yang harus dilakukan oleh caleg agar dipilih oleh masyarakat ?” tanya Ningrum hati-hati, khawatir Bu Nini masih bersedih.
“Caleg apaan ya, Ibu kagak ngerti”
Dahi Ningrum langsung bekernyit, ia menarik nafas panjang dan berusaha mengumpul kata-kata untuk menjawabnya.
“Caleg itu calon anggota legislatif yang akan kita pilih pada pemilu nanti. Kalau calon anggota DPR tau nggak?”
“Oh itu, iya tau.”
“Jadi Ibu nanti mau pilih caleg yang bagaimana, yang suka berdialog dengan warga, bagi-bagi atribut, memberi bantuan sembako, sederhana atau yang tidak korupsi?
“Yang kasih sembako deh, biar kita pada seneng, sama gak korupsi,”
Ningrum tersenyum mendengar jawaban Bu Nini, sambil siap-siap menanyakan pertanyaan berikutnya.
Sekarang pertanyaan selanjutnya ya. Menurut Ibu pada pemilu nanti, ibu lebih seneng contreng logo partainya, apa contreng nama calegnya karena memang calenya ibu kenal,” tanya Ningrum, yang sebelumnya telah ia terangkan kepada Bu Nini bahwa pemilu 2009 ini menggunakan sistem contreng.
“Wah contreng nama calegnya aja, biar pas orangnya.”
“Kalau gitu sudah tahu nama calegnya?” tanya Ningrum lebih jauh.
“Ibu mah belom tau.”
“Kalau sudah ada nama calegnya yang sreg, dibaca hati-hati nama calegnya pada kertas suara nanti, biar tidak salah, karena banyak yang namanya sama.”
“Wah neng, Ibu kagak bisa baca
Nah loh! Ningrum tambah pusing, meski di dalam hatinya tertawa. Ia bingung dengan ibu ini. Bagaimana ia akan mencontreng nama calegnya, kalau ia sendiri tidak bisa membaca.
“Saya sarankan ibu contreng logo partai saja, biar tidak salah pilih,”
“Oh gitu ya neng. Iya deh, ntar ibu contreng gambar partainya aja. Partai apa ya Neng?”
Ningrum pun tersenyum tak sabar hatinya untuk menjawab. (adine)
| ||||
|
| ||||
|
Minggu, 15 Februari 2009
Jakarta beberapa waktu lalu. Hadir dalam acara itu antara lain: KH. Kholil Ridwans (Ketua MUI), Habib Muhsin Al Atas (Ketua Majelis Dewan Syuro FPI), Yudi Latif (Dosen Universitas Paramadina), dan sebagian Laskar FPI.
Buku Hitam-Putih FPI yang ditulis oleh Alumni Gontor dan Al Azhar – Kairo, Andri Rosadi, Lc, M.Hum ini mengungkapkan rahasia-rahasia mencengangkan ormas keagamaan paling kontroversial. Andri juga mengklaim dirinya melakukan investigasi langsung dari markas FPI. Dari penelusurannya ke markaz FPI, namun belum pernah mewawancarai Pimpinan FPI Habib Rizieq Shihab itu, Andri dituding telah melakukan penyusupan ke ormas Islam yang selama ini dikenal “galak” memerangi kemaksiatan. Bahkan ia dianggap sebagai agen zionis. Atas tudingan itu, Andri membantah keras telah melakukan penyusupan.
Dalam pandangan Andri, FPI adalah “the other” yang harus didekati dan dipahami, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip hukum. Pemahaman hukum di kalangan FPI, saya lihat jauh lebih kompleks. Setidaknya ada dua dimensi hukum yang mereka praktikkan secara bersamaan dalam kehidupan sosial budaya: hukum positif dan fikih.
“Hukum fikih yang dipahami oleh para pengikut FPI tidak pernah menoleransi segala bentuk penyimpangan moral dan prinsip ajaran agama. Repotnya, ketika terjadi benturan antara hukum positif dan hukum fikih, pengikut FPI lebih memilih cara penyelesaian yang sesuai dengan selera mereka dengan mengatasnamakan agama,” ujar Andri yang ditulis dalam bukunya. (Adhes Satriya)
Oleh: Eman Mulyatman
Jakarta-Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Akhir bulan lalu, CSRS menggelar sosialisasi hasil riset tentang “Pemetaan Ideologi Masjid-masjid di DKI Jakarta” (www.csrc.or.id). Dinamika yang cukup kompleks, mulai dari isu sosial, politik, ekonomi, hingga agama, merupakan alas an di balik pemilihan DKI Jakarta sebagai lokus penelitian.
Sementara peta itu didapatkan dengan mengacu pada persepsi pengurus masjid tentang beberapa isu kontemporer seperti system pemerintahan, formalisasi syariat Islam, jihad, kesetaraan gender dan pluralisme.
Seminar sosialisasi riset "Pemetaan Ideologi Masjid-masjid di DKI Jakarta" yang dilakukan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta di Jakarta Media Center, kemarin, 29 Januari 2009
Ridwan al-Makassary, selaku Koordinator Program Penelitian, menyimpulkan bahwa mayoritas masjid-masjid di DKI Jakarta masih menyuarakan gagasan dan pemikiran Islam moderat. Pandangan mayoritas takmir masjid yang moderat ini tecermin dari pandangan mereka atas lima gagasan yang ditanyakan.
Lima gagasan tersebut adalah mengenai sistem pemerintahan, formalisasi syariat Islam, jihad, kesetaraan jender (gender equity), dan pluralisme. Selain itu, al-Makassary juga menyampaikan bahwa CSRC UIN Jakarta menghimbau pihak pemerintah, ormas-ormas keagamaan, universitas dan organisasi masyarakat sipil lainnya dalam hal ini perlu mengambil langkah yang strategis dalam penguatan Islam moderat sebagai wajah Islam yang ramah dan toleran di tanah air.
Berikut ini cuplikan hasil penelitian.
Dalam system pemerintahan, mayoritas takmir masjid memiliki pandangan yang moderat (88%) terkait dengan system pemerintahan, dalam arti mendukung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Walau begitu, tetap saja ada takmir yang mengamini gagasan Negara Islam (20,8%) dan Khilafah Islamiyah (32%).
Dalam isu formalisasi syariat Islam menunjukkan kebanyakan (60%) takmir masjid setuju tentang kewenangan Negara mengatur dress code umat Islam. Sebanyak 44,8% takmir masjid setuju, umat Islam wajib memperjuangkan berlakunya kembali Piagam Jakarta. Sementara 14,4% takmir setuju bahwa pemerintah yang tidak menerapkan syariah wajib diperangi.
Pada isu kesetaraan gender, hasil penelitian menunjukkan sebagian besar (87,6%) takmir masjid setuju perempuan bekerja di ruang publik. Meski begitu, sebagian besar (56,4%) takmir masjid tak setuju perempuan menjadi presiden.
Sementara pemahaman tentang jihad dari para takmir masjid secara umum menunjukkan ketidaksetujuannya pada penggunaan kekerasan (73,6%), dan hanya 15,2% yang tidak setuju.
Kaitannya dengan pluralisme ada dua model hubungan yang penting disoroti. Hal yang terkait dengan relasi kemanusiaan pada umumnya ditanggapai secara positif oleh takmir masjid. Dalam soal penghormatan terhadap keyakinan agama lain, misalnya, rasa toleransinya sangat menonjol. Tetapi ketika pertanyaan yang diajukan berkisar pada masalah ideologis maka truth claim lebih dominan muncul. (emy)