Oleh: Eman Mulyatman
Jakarta-Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Akhir bulan lalu, CSRS menggelar sosialisasi hasil riset tentang “Pemetaan Ideologi Masjid-masjid di DKI Jakarta” (www.csrc.or.id). Dinamika yang cukup kompleks, mulai dari isu sosial, politik, ekonomi, hingga agama, merupakan alas an di balik pemilihan DKI Jakarta sebagai lokus penelitian.
Sementara peta itu didapatkan dengan mengacu pada persepsi pengurus masjid tentang beberapa isu kontemporer seperti system pemerintahan, formalisasi syariat Islam, jihad, kesetaraan gender dan pluralisme.
Seminar sosialisasi riset "Pemetaan Ideologi Masjid-masjid di DKI Jakarta" yang dilakukan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta di Jakarta Media Center, kemarin, 29 Januari 2009
Ridwan al-Makassary, selaku Koordinator Program Penelitian, menyimpulkan bahwa mayoritas masjid-masjid di DKI Jakarta masih menyuarakan gagasan dan pemikiran Islam moderat. Pandangan mayoritas takmir masjid yang moderat ini tecermin dari pandangan mereka atas lima gagasan yang ditanyakan.
Lima gagasan tersebut adalah mengenai sistem pemerintahan, formalisasi syariat Islam, jihad, kesetaraan jender (gender equity), dan pluralisme. Selain itu, al-Makassary juga menyampaikan bahwa CSRC UIN Jakarta menghimbau pihak pemerintah, ormas-ormas keagamaan, universitas dan organisasi masyarakat sipil lainnya dalam hal ini perlu mengambil langkah yang strategis dalam penguatan Islam moderat sebagai wajah Islam yang ramah dan toleran di tanah air.
Berikut ini cuplikan hasil penelitian.
Dalam system pemerintahan, mayoritas takmir masjid memiliki pandangan yang moderat (88%) terkait dengan system pemerintahan, dalam arti mendukung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Walau begitu, tetap saja ada takmir yang mengamini gagasan Negara Islam (20,8%) dan Khilafah Islamiyah (32%).
Dalam isu formalisasi syariat Islam menunjukkan kebanyakan (60%) takmir masjid setuju tentang kewenangan Negara mengatur dress code umat Islam. Sebanyak 44,8% takmir masjid setuju, umat Islam wajib memperjuangkan berlakunya kembali Piagam Jakarta. Sementara 14,4% takmir setuju bahwa pemerintah yang tidak menerapkan syariah wajib diperangi.
Pada isu kesetaraan gender, hasil penelitian menunjukkan sebagian besar (87,6%) takmir masjid setuju perempuan bekerja di ruang publik. Meski begitu, sebagian besar (56,4%) takmir masjid tak setuju perempuan menjadi presiden.
Sementara pemahaman tentang jihad dari para takmir masjid secara umum menunjukkan ketidaksetujuannya pada penggunaan kekerasan (73,6%), dan hanya 15,2% yang tidak setuju.
Kaitannya dengan pluralisme ada dua model hubungan yang penting disoroti. Hal yang terkait dengan relasi kemanusiaan pada umumnya ditanggapai secara positif oleh takmir masjid. Dalam soal penghormatan terhadap keyakinan agama lain, misalnya, rasa toleransinya sangat menonjol. Tetapi ketika pertanyaan yang diajukan berkisar pada masalah ideologis maka truth claim lebih dominan muncul. (emy)
1 komentar:
boleh ,keren n yang penting tambah pengetahuan
Posting Komentar