PKS Jaksel : Program “Ketuk Pintu Sejuta Rumah” yang digaungkan oleh DPW PKS DKI Jakarta, untuk mengetahui aspirasi warga ibukota, menghadirkan banyak cerita. Ada yang seru, pilu, hingga lucu.
Itulah yang dialami oleh salah seorang kader PKS di Jakarta Selatan. Sebut saja namanya Ningrum. Mendapat tugas untuk mengunjungi sepuluh rumah warga, langsung disambutnya dengan semangat. Selain untuk bersilaturahim, kegiatan ini ia manfaatkan untuk mengetahui pendapat masyarakat tentang PKS, yang kemudian dimuat di sebuah buletin PKS yang ia garap.
Tibalah Ningrum di rumah salah satu warga RT 12 RW 01 Pesanggrahan. Sebut saja namanya Bu Nini, Wanita berumur lebih dari setengah abad ini menyambut Ningrum dengan ramah.
Mendapat sambutan yang hangat, Ningrum pun segera menyatakan maksud kedatangannya. Setelah sedikit basa-basi, Ningrum langsung melontarkan beberapa pertanyaan.
“Menurut Ibu, masalah apa di DKI Jakarta yang harus segera diselesaikan masalahnya?” ucap Ningrum memulai pertanyaan.
“Apa ya…,” Bu Nini tampak bingung, dan kebingungan itu segera ditangkap oleh Ningrum.
“Maksudnya begini. Kalau Ibu senengnya kehidupan di Jakarta itu kayak apa? Apakah lingkungan aman, sembako murah, sekolah dan berobat ke rumah sakit juga murah, cari kerja tidak susah, jangan sering macet dan tidak sering-sering banjir. Pokoknya Bu Nini pengennya Jakarta itu kayak apa…?” jelas Ningrum panjang lebar.
“Wah kalau saya sih pengen semua Neng,”
“Iya tapi yang mana dulu pengennya”
“Yah sembako dulu dah murah, sama rumah sakit, soalnya ibu udah tua nih, suka sakit-sakitan, Kalau sakit gini sedih banget Neng. Malah bapak sudah meninggal, anak jauh, semuanya ibu kerjaiin sendiri’ ucap Bu Nini dengan mata berkaca-kaca.
“Yang sabar ya Bu, Insya Allah nanti sakitnya sembuh,” tutur Ningrum menenangkan.
****
Singkat kata, pertanyaan demi pertanyaan telah Ningrum lontarkan. Tibalah pada pertanyaan tentang calon anggota legislatif
“Menurut ibu nih, apa yang harus dilakukan oleh caleg agar dipilih oleh masyarakat ?” tanya Ningrum hati-hati, khawatir Bu Nini masih bersedih.
“Caleg apaan ya, Ibu kagak ngerti”
Dahi Ningrum langsung bekernyit, ia menarik nafas panjang dan berusaha mengumpul kata-kata untuk menjawabnya.
“Caleg itu calon anggota legislatif yang akan kita pilih pada pemilu nanti. Kalau calon anggota DPR tau nggak?”
“Oh itu, iya tau.”
“Jadi Ibu nanti mau pilih caleg yang bagaimana, yang suka berdialog dengan warga, bagi-bagi atribut, memberi bantuan sembako, sederhana atau yang tidak korupsi?
“Yang kasih sembako deh, biar kita pada seneng, sama gak korupsi,”
Ningrum tersenyum mendengar jawaban Bu Nini, sambil siap-siap menanyakan pertanyaan berikutnya.
Sekarang pertanyaan selanjutnya ya. Menurut Ibu pada pemilu nanti, ibu lebih seneng contreng logo partainya, apa contreng nama calegnya karena memang calenya ibu kenal,” tanya Ningrum, yang sebelumnya telah ia terangkan kepada Bu Nini bahwa pemilu 2009 ini menggunakan sistem contreng.
“Wah contreng nama calegnya aja, biar pas orangnya.”
“Kalau gitu sudah tahu nama calegnya?” tanya Ningrum lebih jauh.
“Ibu mah belom tau.”
“Kalau sudah ada nama calegnya yang sreg, dibaca hati-hati nama calegnya pada kertas suara nanti, biar tidak salah, karena banyak yang namanya sama.”
“Wah neng, Ibu kagak bisa baca
Nah loh! Ningrum tambah pusing, meski di dalam hatinya tertawa. Ia bingung dengan ibu ini. Bagaimana ia akan mencontreng nama calegnya, kalau ia sendiri tidak bisa membaca.
“Saya sarankan ibu contreng logo partai saja, biar tidak salah pilih,”
“Oh gitu ya neng. Iya deh, ntar ibu contreng gambar partainya aja. Partai apa ya Neng?”
Ningrum pun tersenyum tak sabar hatinya untuk menjawab. (adine)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar